Fakultas Ekonomi Bisnis dan Ilmu Sosial, Universitas Perintis Indonesia (FEBIS-UPERTIS) telang melangsungkan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat terhadap kelompok masyarakat “Sanggar Belajar Rakyat Mandiri”, Agam, Bukittinggi.
Kegiatan ini dilakukan oleh dosen dari program studi Ilmu Komunikasi dan Bisnis Digital sebagai salah satu bahagian dari kinerja dosen dalam menjalankan Tridharma perguruan tinggi.
Terdapat tiga meteri yang disampaikan oleh Prodi Ilmu Komunikasi dan tiga pemateri dari Prodi Bisnis Digital. Salah satu materi dari Program Studi Ilmu Komunikasi adalah sosialisasi Tentang Bagaimana Berkomunikasi yang Bijak Masyarakat Multikulturalisme Terhadap “Sanggar Belajar Rakyat Mandiri” di Agam, Bukittinggi.
Acara ini dilaksanakan di Ruang Aula, lantai 1, Kampus Universitas Perintis Indonesia Bukittinggi pada hari Kamis, 13 Januari 2022 yang diikuti oleh 50 orang peserta. Materi tersebut diketui oleh Delpa, SS, M.Sc, Ph.D dengan anggota Eda Elysia, M.I.Kom dan Annisa Weriframayeni, M.I.Kom beserta 8 orang mahasiswa dari kedua Prodi di FEBIS tersebut.
Pada dasarnya masyarakat Bukittinggi terdiri dari beragam etnik, budaya, loghat bahasa dan agama. Keberagaman etnis, budaya, loghat bahasa dan agama sering menjadi penyebab penyebab utama terjadinya konflik sosial di tengah masyarakat yang multikulturalisme di Bukittinggi.
Hasil interview terhadap beberapa informan kajian menjelaskan bahwa masyarakat Bukittinggi terdari beragam budaya, etnis, loghat bahasa di mana keberagaman tersebut sering menjadi pemicu munculnya model komunikasi yang kurang bijak dalam berinteraksi. Hal demikian sering berakhir dengan adu mulut dan bentrok fisik.
Melalui Pengabmas ini, pemateri coba menyampaikan materi terkait bagaimana menciptakan model komunikasi yang bijak dalam masyarakat multikulturalisme terhadap masyarakat Bukittinggi.
Pada dasarnya pilihan bahasa dalam berkomunikasi yang kurang bijak dapat menimbulkan jarak sosial dalam berinteraksi. Dalam pengajian materi dikupas ada beberapa faktor penyebab terjadinya model komunikasi yang kurang bijak dalam masyarakat yang multikulturalisme.
Pertama, adanya individu atau kelompok masyarakat yang bersikap etnosentrisme, primordial dan etnisitas yang berlebihan sehingga mendorong pelaku menggunakan model komunikasi yang kurang bijak dalam masyarakat yang berbagai tersebut.
Kedua, kurangnya pemahaman tentang penting sikap terbuka menerima perbedaan budaya, agama, etnis dan loghat bahasa sehingga mendorong terjadinya jarak sosial dalam berkomunikasi lintas budaya.
Melalui kegiatan Pengabmas tersebut, pemateri menerangkan perlunya individu dan kelompok sosial untuk bersikap terbuka menerima perbedaan budaya, etnis, loghat bahasa dan agama. Sikap terbuka tersebut dapat mengurangi jarak sosial antar etnis dalam berkomunikasi sehingga terbina untuk saling menghargai perbedaan budaya.
Selain dari itu, komunikasi yang bijak perlu dilakukan dengan cara mengamalkan konsep kebersamaan dalam masyarakat yang multikulturalisme. Konsep ini juga telah digagas oleh mantan Presiden RI, Abdurrahman Wahid tentang perlunya seluruh masyarakat Indonesia untuk saling menerima perbedaan budaya di tengah masyarakat yang multikulturalisme.
Setiap konflik sosial yang muncul dalam masyarakat multikulturalisme dapat diselesaikan dengan bijak tanpa harus mencari perbedaan-perbedaan yang wujud dalam sebuah masyarakat, baik itu perbedaan budaya, agama, bahasa atau pun adat dan tradisi. Kutipan falsafah adat
Minangkabau “ibarat maelo rambuik dalam tapuang (seumpama menarik rambut dalam tepung) juga menegaskan tentang perlunya melakukan model komunikasi yang bijak sehinga segala bentuk masalah konflik dapat diselesaikan dengan bijak tanpa ada yang dirugikan.
Sebagai kesimpulan dari Pengabmas ini adalah dengan menggunakan komunikasi yang bijak dapat menghindari terjadinya konflik dan memperkuat semangat kebersamaan menerima perbedaan di tengah masyarakat yang multikulturalisme di Bukittinggi. (**)
